Tadabbur Surat Al-‘Ashr – Jangan Sampai Kita Jadi Orang Bangkrut
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman, nikmat Islam, dan yang paling penting — nikmat kesehatan plus waktu luang. Kenapa saya bilang penting? Karena dua itu, kata Nabi, sering jadi bahan tipu-tipuan Allah. Eh, bukan Allah yang nipu, tapi kita yang kegeeran.
Shalawat dan salam buat junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan semoga sampailah kepada kita semua sebagai umatnya yang insyaallah setia, walaupun kadang suka telat shalatnya. Aamiin.
Pembukaan: Ngaca Dulu, Yuk!
Hadirin jamaah yang dirahmati Allah, khususnya yang hari ini masih sempat hadir, bukan lagi sibuk nyuci motor atau belanja ke pasar. Semoga Allah catat ini sebagai langkah kaki yang diberkahi.
Sebelum mulai, saya mau tanya:
Pernah merasa rugi?
Coba angkat tangan, siapa yang pernah beli barang mahal, besoknya turun harganya?
Atau siapa yang pernah investasi, eh, uangnya malah raib?
Atau yang paling sakit: siapa yang pernah niat beli gorengan buat jamaah, eh, pas sampai rumah gorengannya tinggal setengah? Itu rugi, tapi perut kenyang.
Tapi jamaah sekalian, rugi yang sesungguhnya bukan itu. Rugi yang paling besar adalah ketika umur kita habis, waktu kita berlalu, tapi kita nggak dapat apa-apa di sisi Allah. Malah dapat dosa.
Makanya, Allah turunkan surat yang sangat pendek, sangat mudah dihafal, tapi kalau kita renungkan, dalamnya minta ampun. Ini dia surat Al-Asr.
Ayat 1: Demi Masa
Allah berfirman:
Allah buka dengan sumpah. "Demi masa." Kenapa Allah bersumpah dengan masa? Coba kita pikir. Apa yang paling berharga dalam hidup kita? Harta? Kalau harta hilang, bisa dicari lagi. Istri? Na'udzubillah, jangan sampai hilang. Tapi waktu? Waktu yang sudah lewat, nggak akan pernah balik.
Saya kasih contoh.
Dulu waktu kecil, saya pernah minta dibelikan mainan sama ibu. Ibu bilang, "Nanti, kalau udah gajian." Eh, gajian datang, saya lupa, ibu lupa. Sekarang saya udah gede, punya uang bisa beli mainan sekardus. Tapi masa kecil saya sudah lewat. Saya nggak bisa balik jadi anak-anak buat main lagi.
Itulah waktu. Dia terus berjalan. Tua nggak bisa balik muda. Mati nggak bisa balik hidup. Maka Allah bersumpah dengan waktu, supaya kita sadar: Waktu itu adalah modal utama kita hidup di dunia.
Ayat 2: Manusia dalam Kerugian
Allah berfirman:
Nah, ini ayat yang keras banget. Allah bilang semua manusia rugi. Semua. Nggak ada yang selamat. Dari anak kecil sampai kakek-kakek. Dari orang kaya sampai orang miskin. Dari pejabat sampai preman pasar. Semua berpotensi bangkrut.
Coba bayangkan, kita punya umur 60 tahun. Kita tidur 20 tahun, kita kerja 20 tahun, kita ngobrol ngalor-ngidul, nonton TV, scroll medsos mungkin 15 tahun. Sisa berapa? Sisanya mungkin 5 tahun buat ibadah. Itu kalau ibadahnya konsisten. Nah, kalau yang 5 tahun ini kita isi dengan maksiat, misalnya dosa, ghibah, fitnah? Maka jadilah kita orang yang merugi.
Tapi Alhamdulillah, Allah Maha Penyayang. Di ayat ketiga, Allah kasih jalan keluar. Kayak orang mau bangkrut, dikasih modal lagi. Ada 4 syarat biar kita selamat dari kerugian ini.
Ayat 3: 4 Kunci Keselamatan
Allah berfirman:
Poin 1: Iman (Jangan Cuma KTP)
Iman itu kayak KTP. Kita punya KTP, tapi kadang kita nggak ingat nomornya, nggak hafal alamat lengkapnya. Iman juga begitu. Kita punya iman, tapi kadang kita lupa. Iman itu bukan cuma di bibir, tapi di hati dan dibuktikan dengan perbuatan.
Coba kita tanya diri sendiri: Sudah sekuat apa iman kita?
Kalau iman kita kuat, pasti kita akan selalu ingat Allah.
Kalau kita lupa Allah, berarti iman kita lagi lemah. Kayak sinyal HP. Kadang 4G, kadang ilang. Nah, kita harus cari titik di mana sinyal iman kita full terus. Caranya? Istigfar, shalat, baca Qur'an.
Poin 2: Amal Saleh (Jangan Cuma "Katanya" Islam)
Ini adalah bukti dari iman. Kalau iman itu pohon, amal saleh itu buahnya. Kalau kita ngaku punya pohon mangga, tapi nggak pernah berbuah, atau berbuahnya asam, berarti ada yang salah dengan pohonnya.
Amal saleh itu luas. Bukan cuma shalat, puasa, zakat. Tapi juga:
- Senyum kepada tetangga (meskipun dia suka pinjam tapi lupa balikin).
- Membuang duri, batu, atau kulit pisang dari jalan. Karena kalau nggak dibuang, nanti ada yang kepleset. Itu sedekah.
- Membantu istri cuci piring. Itu amal saleh, lho. Jangan cuma disuruh baru gerak.
Jadi, iman harus diikuti amal. Jangan cuma "katanya" Islam, tapi perilaku kita nggak mencerminkan Islam.
Poin 3: Nasihat Menasihati dalam Kebenaran (Jangan Cuek)
Nah, ini yang sering kita lupakan. Kita kadang cuek bebek. Tahu teman salah, diam. Tahu tetangga maksiat, "Ah, urusan dia sama Allah." Itu nggak boleh.
Kita harus saling mengingatkan. Tapi ingat, nasihat itu harus dengan cara yang baik. Jangan pakai cara kayak marahi anak kecil. Nggak pakai "Hei, lu dosa, lu bakal masuk neraka!" Nggak gitu.
Tapi dengan lemah lembut.
Contoh: Kalau ada teman yang suka ninggalin shalat, jangan langsung vonis. Coba tanya, "Bro, lo lagi sibuk ya? Gua perhatiin akhir-akhir ini lo kayaknya jarang ke masjid. Ada kendala? Mungkin gua bisa bantu ingetin, atau kita shalat bareng."
Itu namanya tawasau bil-haqqi. Ngingetin karena sayang, bukan karena benci.
Tapi ada risiko jadi imam masjid...
Pernah nggak, kita ngingetin orang, eh, dia malah marah? "Urus aja diri lu sendiri!" Nah, itu ujiannya. Makanya ada syarat keempat.
Poin 4: Nasihat Menasihati dalam Kesabaran (Jangan Baper)
Ini penting banget. Karena berdakwah, mengingatkan orang, itu nggak mudah. Kadang dilecehkan, kadang dicuekin, kadang dibilang sok alim. Di sinilah kita butuh sabar.
Sabar itu ada tiga macam:
1. Sabar dalam taat. Ibadah itu berat. Shalat subuh itu berat, apalagi kalau cuaca dingin. Tapi kita sabar jalani karena Allah.
2. Sabar dari maksiat. Godaan maksiat itu menggoda. Sabar untuk nggak ikut-ikutan ghibah, sabar untuk nggak korupsi, sabar untuk nggak buka konten yang nggak seharusnya.
3. Sabar menerima takdir. Ketika dapat musibah, dapat cobaan, kita sabar. Nggak protes, nggak marah-marah sama Allah.
Jadi, kalau kita udah ngingetin orang, terus dia marah, kita sabar. Kita bilang, "Ya udah, lain kali saya ingetin lagi." Jangan kapok. Karena ini perintah Allah.
Hadits Penguat: Dua Nikmat yang Sering Terlupakan
Ada hadits yang sangat terkenal, dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
Kata Nabi, banyak manusia yang maghbun (tertipu) dengan dua hal ini. Ketika sehat, kita lupa sakit. Kita pikir kita akan sehat terus. Ketika punya waktu luang, kita sia-siakan. Kita pikir kita punya umur panjang.
Coba perhatikan:
Orang sakit, baru ingat sehat itu nikmat.
Orang sibuk, baru ingat waktu luang itu berharga.
Orang tua, baru ingat masa muda.
Orang mati, baru ingat kehidupan.
Makanya, sebelum datang 5 perkara, kita disuruh manfaatkan 5 perkara:
1. Hidupmu sebelum matimu. Sebelum mati, manfaatkan hidup.
2. Sehatmu sebelum sakitmu. Sebelum sakit, manfaatkan sehat.
3. Waktu luangmu sebelum sibukmu. Sebelum sibuk, manfaatkan waktu senggang.
4. Mudamu sebelum tuamu. Sebelum tua, manfaatkan muda.
5. Kayamu sebelum miskinmu. Sebelum miskin, manfaatkan kaya untuk sedekah.
Penutup: Waktu Tak Akan Kembali
Jadi, jamaah sekalian yang saya hormati,
Surat Al-Asr ini adalah surat yang pendek, tapi bobotnya luar biasa. Ini adalah surat yang dulu para sahabat kalau ketemu, mereka nggak akan berpisah sampai salah satu dari mereka membacakan surat ini untuk yang lain. Karena mereka sadar, ini adalah pedoman hidup.
Poin-poinnya sederhana:
1. Jaga iman.
2. Perbanyak amal saleh.
3. Saling ngingetin dalam kebaikan.
4. Saling ngingetin untuk sabar.
Mulai hari ini, mari kita hitung-hitung umur kita. Jangan sampai kita termasuk orang yang maghbun, tertipu oleh waktu luang dan kesehatan.
Karena waktu itu seperti pedang. Kalau kita nggak memotongnya, dia yang akan memotong kita. Artinya, kalau kita nggak memanfaatkan waktu dengan baik, waktu akan "memotong" kesempatan kita dan membawa kita pada penyesalan.
Mudah-mudahan Allah memberikan kita kekuatan untuk mengisi waktu-waktu kita dengan hal-hal yang bermanfaat, dan menjauhkan kita dari golongan orang-orang yang merugi. Aamiin.
Saya akhiri, kurang lebihnya mohon maaf, lebihnya dari Allah, kurangnya dari saya pribadi.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.